Ku matikan handphoneku.
Aku mendengus kesal. Dengan kondisi kantor yang masih belum jelas dan morat-marit kayak sekarang, mendapatkan tugas baru adalah bukan merupakan sebuah prestasi. Tapi lebih terasa sebagai jebakan-jebakan ‘batman’ yang sengaja di pasang untuk orang-orang yang sedang di incar agar merasa gerah dan nggak betah. Karena, apapun yang akan dan bisa di lakukan, toh nantinya akan berbuntut sama aja, berakhir di sebuah perebutan kepentingan dari berbagai macam konflik yang sudah banyak banget terjadi saat ini di kantor. Akhir ceritanya pun jadi mudah di tebak, bahwa setiap keberhasilan adalah credit bagi pihak-pihak yang sedang berada ‘di atas angin’. Sementara pihak-pihak yang berada ‘dibawah angin’, cuma bisa gigit jari dan meratap nggak karuan di sebuah kantin sempit, sumpek, dan pengap di pojokan parkiran. Benar-benar sebuah ‘lukisan hidup’ yang sudah bosan aku lihat.
Belum lagi masalah dari rumah. Masalah pengaturan keuangan yang benar-benar berubah jadi ‘minus’, karena kesalahan pengambilan keputusan yang ternyata bisa berakibat sangat besar di semua sisi kehidupan. Cashflow yang tadinya bisa berjalan dengan tenang, setenang riak danau Singkarak di kampung ayahku, saat ini berubah gonjang-ganjing gak karuan. Ini semua akibat program-program cicilan yang dengan mudahnya kami ambil, dan ternyata sangat berat kami jalani konsekuensinya setiap hari. Setiap bulan, gaji ku mengalir sangat lancar, selancar air sungai Bengawan Solo. Mengalirnya nggak kemana-mana sih, tapi ke para kreditur yang setiap akhir bulan seperti selalu mendapatkan tambahan energi baru untuk rajin meneleponku berkali-kali. Dan, satu per satu mereka akan ‘hening’, manakala sudah ku fax kan stroke pembayaranku yang ku transfer via atm. Lalu, sebagian besar lagi sisa uang gaji itu akan mengalir ke kebutuhan rumah yang lain, bayaran anak sekolah, biaya berobat, perlengkapan sekolah, jemputan, les privat, dan banyak banget cost item lainnya. Kalau di jejer, aku yakin banget semua cost item itu jumlahnya akan sama dengan jumlah cost item dari sebuah proyek yang bernilai milyaran rupiah di kantorku. Hanya, value dari masing-masing cost item itu saja yang beda, karena nilai cost item di rumahku jauuuuuuuuuhhh lebih kecil jika di bandingkan dengan yang di proyek. Tapi, buatku, sama saja. Kehilangan pengendalian cost item di proyek, bisa berarti penilaian ketidak mampuanku dalam bekerja. Di sisi lain, kehilangan pengendalian cost item di rumah, bisa berarti penilaian ketidak mampuanku dalam menjadi kepala keluarga. Intinya, dua duanya akan berbuntut kepada ketidak mampuan. Dan, untuk itulah aku berusaha untuk tetap kuat menaruh jidatku di keset kaki pintu masuk kantor ini, agar tetap bisa menerima slip gaji setiap bulannya.
Well..
Di tengah semua carut-marut hidupku yang kacau balau itu, dari pagi tadi aku sudah menerima setidaknya 7 kali misscall dari Ayah. Bayangin, 7 kali misscall !! Semua panggilan itu jadi misscall, karena memang aku nggak pernah angkat panggilan telepon itu. Aku benar-benar ngerasa lagi nggak punya tempat di hatiku, meskipun sedikit, untuk dapat menampung keluh kesah yang biasa di bicarakan oleh Ayah kepadaku. Dari dulu, setiap kali teleponnya kan selalu seperti itu. Ngeluh inilah…ngeluh itulah. Apa Ayah nggak tau kalo anaknya ini juga lagi kelilit masalah ? Dan, kalau dulu sih, aku masih bisa ‘agak lapang’ lah, sehingga aku masih bisa ‘menampung’ semua keluh kesah yang disampaikan Ayah. Tapi sekarang, aku sedang ngerasa bener-bener penuh. Jadi, kubiarkan saja telepon dari Ayah itu. Sampai 7 kali, biarkan saja. Toh aku juga manusia. Aku juga berhak untuk ngerasa sedang banyak masalah, bukan cuma terus-terusan jadi penampung masalah.
“Itu…Kakak kamu. Coba deh kamu bicara lagi ke dia. Kan nggak bagus kayak gitu. Ayah sudah coba bicara, tapi kayaknya masih belum bisa dia terima. Kalau kamu yang bicara, mungkin dia akan mau dengar…”
Itu kalimat Ayahku yang terakhir aku dengar saat Ayah nelepon aku, 2 minggu yang lalu. Yah…selama dua minggu, aku memang sama sekali nggak pernah mau nelepon Ayah, dan gak mau juga nerima telepon dari Ayah. Aku lagi bener-bener capek, aku pengen istirahat. Di telepon itu, Ayah meminta tolong aku untuk bicara dengan salah satu Kakak ku, mengenai sebuah urusan keluarga. Saat itu, memang Kakak ku tengah terlibat suatu masalah. Tapi, mo sampai kapan sih Ayah mikirin kehidupan masing-masing anaknya ? Mo sampai kapan ? Kami kan semuanya sudah gede, sudah punya keluarga masing-masing. Jadi, mo sampai kapan di recokin sama ini itu dari kekhawatiran dan pikiran Ayah ?
Seringnya malah, kekhawatiran Ayah terhadap kondisi kami itu, aku rasa sudah mulai mengada-ada. Karena, kejadian sebenarnya memang nggak aku rasakan separah itu. Tapi, dibanding memecahkan masalah itu, menjelaskan dan menenangkan perasaan Ayah terhadap semua kekhawatiran yang timbul adalah hal yang jauh lebih susah dan ribet. Juga, makan waktu. Karena, ternyata seringnya nggak bisa beres cuma sekali telepon aja. Tapi mesti berkali-kali, baru deh si Ayah bisa tenang. Itu kan…makan waktu.
Kring…
Telepon ku kembali berbunyi. Kali ini dari Kakak ku. Hhh..mau apa lagi ini ? Pasti si Ayah ngadu deh ke Kakak ku, masalah teleponnya yang nggak pernah mau aku terima hari ini. Dengan malas, ku angkat telepon dari Kakak ku itu..
“Yup..”
“Rie…kamu ke Bandung malam ini juga. Harus!”
Mendadak, sebuah perasaan yang teramat dingin meresapi hatiku. Dan, perasaan itu langsung berubah menjadi sebuah perasaan khawatir yang teramat sangat. Menimbulkan butiran keringat dingin di dahiku. Meluluh lantakkan segala persendian tubuhku. Ada apa yah ?
Dua jam perjalanan ke Bandung di malam hari, dengan menggunakan Travel, sama sekali nggak bisa aku nikmati. Berjuta pertanyaan bergayut di benakku sepanjang perjalanan. Jantungku pun berdetak semakin kencang dan semakin kencang. Hujan besar yang mengguyur sepanjang perjalanan, membuat suasana hatiku semakin di cekam ketakutan tentang sesuatu yang aku sendiri masih belum tau.
Sesampainya di terminal, aku langsung naik taksi menuju rumah Ayah. Tak kurasakan lagi perasaan lapar yang melilit perutku. Aku hanya ingin bisa segera ketemu Ayah. Tak satupun telepon atau sms ku ke Kakak yang di jawab. Itu semuaHanya satu hal yang aku tau, aku mesti cepat ke rumah Ayah.
Sampai di sana, suasana rumah sederhana itu terasa sangat hening dan dingin. Ku lihat mobil Kakak ku sudah terparkir di depan halaman. Dengan tergesa, ku masuki rumah Ayah. Tak ada siapapun yang ada di ruang tamu. Jadi, aku langsung saja menerobos ke kamar ayah.
Di sana, Kakakku terlihat sedang berbicara dengan Ayah. Posisi Ayah saat itu sedang terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Melihat kedatanganku, tangan Ayah langsung melambai. Akupun mendekatinya, dan memeluk tubuhnya. Dan, aku baru menyadari, bahwa tubuh itu tidak lagi gempal, tidak lagi kekar. Sosok Ayah yang dulu ku kenal suka berolah raga, sehingga tubuhnya menjadi gempal itu, saat ini kurasakan hanya tinggal tulang belulang yang di bungkus oleh daging tipis. Kurasakan nafasnya pun tersengal, jauh berbeda dengan nafas Ayah saat memelukku dulu setiap kali aku tercekam perasaan takut. Jemari tangannya lemah menggenggam tanganku, sangat jauh berbeda dengan genggaman tangannya yang kokoh saat menggenggam tanganku di setiap kali Ayah mengajak ku jalan-jalan ke Pasar Baru, atau ke Ragunan, atau ke tempat-tempat lain yang selalu bisa menjadi pengukir indah masa-masa kecilku dulu.
Namun, mata itu masih sama. Mata yang penuh wibawa, dan memancarkan semangat juang yang tak pernah reda. Semenjak Ibu tiada, Ayah memang memilih berjuang sendiri untuk menjalani hidup. Dan, api perjuangan itu kini masih jelas aku lihat.
“Kamu …dateng juga, Rie. Ayah kangen sekali ..sama kalian..” bisik Ayah, di antara nafasnya yang tersengal. Ayah menatap ku dan Kakak ku bergantian, seuntai senyum pun menghiasi wajahnya. Aku dan Kakak ku hanya mampu terdiam. Pelan-pelan, mulai kusadari betapa kacau dan kelirunya kehidupan dan langkah yang telah aku jalani. Dan, aku tiba-tiba menjadi teramat merasa bersalah untuk itu…
“Ayah coba hubungi kalian sejak dua minggu lalu..karena Ayah tahu, mungkin Ayah nggak akan lama lagi bisa ada buat kalian…”
“Ayah…sudahlah, jangan bicara seperti itu..” potong Kakak.
“Tolong…” jawab Ayah, seraya mengangkat sebelah tangannya, ” biarkan Ayah selesai berbicara dulu…” lanjutnya. Kami pun kembali terdiam, dalam posisi duduk di pinggir pembaringan.
“Selama ini, Ayah sudah coba lakukan yang terbaik yang Ayah bisa, untuk kalian. Ayah tau, Ayah sudah begitu keras dalam memperlakukan kalian. Dan, mungkin di antara kalian ada yang berfikir, kenapa kalian nggak pernah Ayah berikan fasilitas-fasilitas yang bisa kalian nikmati seperti anak-anak lain yang punya orang tua dengan jabatan seperti Ayah dulu. Ayah masih ingat setiap kali penolakan Ayah untuk membelikan hal-hal yang kalian inginkan. Semua permintaan kalian itu, masih Ayah ingat…” sejenak Ayah terdiam dan mengatur nafasnya yang sudah semakin sesak.
“Namun, saat ini, kalian mesti tau alasannya. Ayah lakukan semua itu, meskipun dalam hati Ayah menangis karena tidak tega, namun semua itu karena Ayah ingin kalian bisa segera belajar akan kerasnya kehidupan ini. Bahwa, segala sesuatu itu mesti di peroleh dari perjuangan, bukan karena kemudahan fasilitas. Dan, sampai detik ini, Ayah selalu merasakan kebanggaan terhadap semua pencapaian kalian di setiap nafas yang dihembuskan. Cuma itu niat Ayah. Namun, bila hati kalian sempat terluka saat menjalaninya, saat ini Ayah ingin minta maaf kalian….”
Beberapa kali Ayah terbatuk-batuk. Aku langsung memeluk kembali tubuh Ayah dari samping, seraya memijat-mijat pundaknya. Tak kuasa ku tahan air mata yang begitu saja mengalir membasahi pipi…
“Namun, kehidupan ini ternyata jauh lebih keras dari apa yang Ayah perkirakan. Karena, kehidupan ini juga telah sampai membuat kalian berdua begitu mati-matiannya untuk berjuang demi keluarga, dan sudah mampu memutuskan tali silaturahmi kita bertiga. Itu yang Ayah rasakan belakangan ini. Jadi…mungkin ini hal terakhir yang bisa Ayah berikan untuk kalian berdua. Kalian bisa jual rumah kita di Jakarta itu, yang nanti uangnya bisa kalian pakai untuk meringankan beban-beban kehidupan yang selama ini menghantam kalian setiap hari. Ayah yakin, itu bisa sedikit membuat kalian bernafas lebih lega, dan untuk kembali mau menerima telepon dari Ayah…”
Aku dan Kakak ku langsung bersimpuh di hadapan Ayah, dan memeluk kaki Ayah dalam tangis…
“Apapun, nggak ada artinya lagi…bila Ayah harus kehilangan kalian berdua. Karena, cuma kalian berdua lah yang membuat Ayah merasa seolah-olah Ibu masih ada menemani Ayah..Ayah takut untuk sendirian…”
Setelah mengucapkan itu, Ayah langsung kembali rebah. Tak terkira paniknya Aku dan Kakak. Kami berdua pun langsung bekerja sama untuk menggotong Ayah masuk ke mobil, dan membawanya ke rumah sakit. Dan, juga baru kami sadari, inilah kali pertama kami berdua kembali melakukan hal yang sama, setelah bertahun-tahun kami menjalani kehidupan kami masing-masing, dan hanya berhubungan via telepon atau email. Inilah kali pertama aku kembali memegang tangan Kakak ku, setelah bertahun-tahun. Dan, inilah juga kali pertama setelah bertahun-tahun, dimana aku merasakan menjadi penumpang, dan yang menyetir mobil adalah Kakak ku. Semua ini, telah begitu lama tidak pernah kami lakukan lagi…tanpa kami berdua menyadarinya..
Ku tatap wajah Kakakku yang pucat dan cemas saat mengendarai mobil ke rumah sakit. Ku genggam tangannya, dan dia pun menoleh kepadaku.
“Kak…kita akan hadapi ini berdua kan ? Pokoknya…Ayah mesti sembuh…” kataku, seraya menatap matanya dalam rasa ketakutan yang teramat sangat. Kakak ku menatapku beberapa saat, dan kurasakan kembali sebuah ketenangan jiwa yang dipancarkan lewat matanya. Seperti ketenangan jiwa yang selalu dia pancarkan, saat-saat dia melindungiku dari segala ancaman anjing gila, tukang palak, dan semua ancaman yang datang di dalam kehidupan masa kecilku dulu.
“Iya..Dek. Kita akan hadapi semua ini berdua..Dan, Ayah harus sembuh.” jawabnya tegas.
Jakarta yang cerah, 1 Desember 2010
Sebuah hadiah ulang tahun untuk putraku tersayang.
* Bukankah masa kecil adalah sebuah kekuatan yang tak terkira, saat kita menjalani hidup yang semakin menggila ?*