Wajah-Wajah Yang Berlalu..

Juli 16th, 2011 by rie76

wajah2Ada…banyak hal yang mesti aku tinggalkan.

Dan..ada banyak kepedihan dan kegembiraan juga di sana. Sesuatu yang tadinya tampak teramat sangat sederhana, malah menjadi sesuatu yang rumit bergulung-gulung. Gak jelas ujung-pangkalnya, cuma bisa berputar-putar di ruang gelap dengan dinding-dindingnya yang dingin.

Pada sore yang hujan kayak gini, aku sejenak bercanda ria dengan semua kenangan-kenangan masa silam. Ada banyak wajah yang sudah berlalu lalang di dalam hidupku, dan beberapa di antaranya telah masuk terlalu jauh ke dalam hatiku. Wajah-wajah yang ceria, dan penuh rasa. Mungkinkah wajah-wajah itu masih selembut dulu, atau saat ini sudah menatapku dengan penuh kebencian dan dendam ? Hhhh…ingin aku melukis kembali wajah-wajah itu di dalam hariku, agar aku bisa berlutut meminta maaf untuk semua hal yang menyakitkan. Aku ingin mereka tau, bahwa aku nggak akan sampai di sini tanpa mereka. Hanya saja….mungkin tembok kebencian itu sudah begitu tebalnya untuk ku tembus…Hanya di dalam keinginan yang ku ucapkan pada lautan yang sunyi.

Ada banyak wajah lagi yang menemani hari, dan menghasilkan beberapa keyakinan dan penghargaan di dalam dunia kantor. Wajah wajah yang selalu tersenyum dan mengangguk saat ku sapa. Wajah-wajah yang letih menunggu keluarnya gaji bulanan. Wajah-wajah yang penuh semangat saat sama-sama lembur sampai malam untuk sebuah tujuan. Dan…satu persatu wajah itu juga sirna. Yang tertinggal hanyalah wajah-wajah lusuh dan kehilangan harapan. Hhh…ingin banget ku lukis kembali wajah-wajah mereka, dan meninju bahu mereka sambil berkata : “Jangan Cengeng!! Hidup harus di perjuangkan, bukan cuma sekedar warisan !!” Mengapa aku menjadi terlalu jauh dengan pena, sehingga masih sangat sulit untuk ku lukis wajah-wajah mereka ya ? Aapakah karena mereka yang telah meninggalkan aku, atau tanpa ku sadari aku sudah terbang terlalu jauh meninggalkan mereka ?

Aku bangkit, aku melesat, aku terpuruk menghantam bumi, aku bangkit lagi, dan melesat lagi. Roda memang berputar, dan aku teramat takut dengan ketinggian. Namun, tak mungkin bisa meraih bintang, bila tetap kupaksakan kakiku untuk berpijak di tanah kan ? Di sini, di ruangan baru ini….aku menyepi.

Aku tau bahagianya sebuah penyambutan, sebagaimana aku sangat mengenali pedihnya di acuhkan. Aku tau bahagianya sebuah kehadiran, sebagaimana aku sangat akrab dengan perihnya rasa di tinggalkan. Semua itu, baru saja kurasakan beberapa bulan yang lalu. Dan, aku menjadi sangat sangat berhati-hati dengan itu.

Saat ini, dengan sebuah ‘keluarga yang baru’, dengan semua problemanya yang unik dan sering membuatku tertawa geli, adalah sebuah warna yang masih harus ku tata agar tampak harmonis dan indah terlihat. Itu tugasku, dan aku sedang melakukannya.

Hhhh…Perempuan Bodoh, dimanakah kamu ? Sepertinya aku sedang sangat butuh Kopi yang jauh lebih kental dari yang biasa kamu buat….

Just…alone in sight.

Tentang Kamu…

April 20th, 2011 by rie76

Dan…

Ada kalanya aku membenci kamu..sebesar kamu mencintai aku.. Bahkan, adakalanya aku amat ingin tinggalin kamu, sebesar perjuangan kamu untuk tetap ada di sisi aku. Kamu begitu mencintaiku, di saat aku terlalu sibuk mengkhianati kamu.

Kamu tau kan aku ngejalanin semuanya cuma dengan angan-angan yang aku punya ? Aku nggak punya lagi apa yang sering kamu sebut sebagai “harapan”, atau “tujuan”. Aku nggak punya semua sikap positif kamu, yang aku punya cuma kebencian. Aku selalu bilang ke kamu kalo aku tuh orangnya realistis, di saat kamu terus-terusan minta aku untuk bersabar dengan ‘harapan’ dan ‘impian’ yang kamu bilang…

Tapi, aku nggak bisa sabar…

Aku terdidik buat realistis. Aku terbentuk sebagai manusia yang tau tempat aku berpijak. Mimpi atau angan bukanlah tempat yang bisa untuk di pijak, kan ? Kenyataan itu adalah bumi, sayang….dengan tanahnya yang keras dan berbatu untuk aku pijak. Jadi, di sinilah aku…di atas tanah.

Berminggu aku bertahan, untuk tetap menolak semua logika dan impian yang kamu nyanyiin buat aku. Sampai, semua yang nggak pernah aku pikirkan pun jadi seperti gaun yang melekat erat di tubuhku. Melingkupi diriku dari atas ke bawah, sampai aku menyadari bahwa aku memang sudah seperti itu.

Lalu kamu mulai menyetujuinya. Menyetujui segala realitas yang aku pegang kuat-kuat. Menyetujui kalo harapan itu ternyata memang nggak akan pernah berlaku buatku. Hanya kenyataan, meskipun pahit…mesti di jalani. Aku seneng banget. Aku ngerasa kamu sudah mulai satu dunia denganku. Dan, entah kenapa aku mulai membuka duniaku untuk kamu.

Tapi, kamu setujui itu ternyata hanya karena kamu sudah menilai bahwa apapun yang kamu lakuin, nggak akan bisa buat mengubah ku. Bahkan sedikitpun. Apapun usaha kamu nggak akan bisa ngalahi tegarnya hati aku dengan apa yang aku ingin percaya, bukan apa yang kamu ingin aku percaya. Dan, kamu pun melangkah pergi…karena kamu bilang kita nggak akan pernah bisa jalan di dunia yang sama….

Di sini…

Aku merasa menang. Bahwa manusia seteguh kamu pun nggak bisa mengubah sikapku. Tapi…yang aku nggak tau. Bahwa ternyata aku sudah terbiasa ada kamu. Bahwa ternyata aku sudah begitu nyaman untuk berantem sama kamu. Dan, sekarang kamu pergi. Nggak ada lagi yang protes ke aku tentang ini itu. Nggak ada lagi yang dengan noraknya ngomongin mimpi-mimpi kamu biar aku bisa percaya. Aku merasa sepi….dan kehilangan.

Di sini…cuma aku…dengan egoku.

Dan mungkin akan selamanya seperti itu…..

 

Jakarta, 20 April 2011

Benang Yang Tlah Terurai..

April 7th, 2011 by rie76

Hidup…

Belakangan ini bener-bener sudah menjadi sebuah kata yang sudah terbukti sukses banget membuat gw pontang-panting gak karuan. Banyak banget hal-hal baru yang mesti gw hadapin, yang bener-bener jauuuuh banget dari apa yang pernah gw rancang atau gw bayangkan. “Tapi…hidup kan gak dateng sesuai pesanan…” kata salah seorang temen gw. Dan, bener banget, gw ngerasain itu sekarang.

Baru aja tahun kemarin, di sebuah malam gw sempet mencoba ‘merancang-rancang’ apa yang gw ingin lakukan, dan apa yang gw ingin capai di tahun ini…ternyata gw malah ngalamin hal-hal yang bener-bener sama sekali di luar apa yang bisa dan pernah gw bayangin.

Mulai dari gw kehilangan seluruh (catet ya…seluruh!! Itu berarti gak ada yang sisanya) Team gw yang selama ini gw cintai dan gw bela, trus gw musti ngantor di salah satu ‘bangunan yang bahkan udah terlupakan’ oleh kantor gw, karena udah sekian lama tuh bangunan itu gak kepake, sampe gw di panggil ke kantor pusat buat di tempatkan di sebuah meja buat…… ’staff ‘.

Nah, for the first time in my life, gw bener-bener baru ngerasain yang namanya… jatuh. Yup…jatuh. Dan ternyata, jatuh itu seperti ngelayang dan brukk!! Jatuh…adalah sakit. Dan, itu gak terbantahkan. Sakit badan, dan sakit harga diri juga…hehehe… Dari ngerasain punya ruangan segede kantor lurah, saat itu gw mesti membiasakan diri lagi kembali masuk ke lorong-lorong meja-meja staff yang berjejalan. (minimal, kalo kita goyang kursi dikit, udah mentok sama kursi orang di belakang kita deh….hihihi…)

Well…gw akuin, frustasi banget waktu itu. Bingung mau ngapain. Saat itu, gw ngerasa seperti semua isi dunia pergi berpaling dari gw, dari hidup gw. Bahkan, banyak orang-orang yang dulu sangat dekat dan akrab, saat itu seperti melangkah menjauh dan cuma melihat gw dengan tatapan kasian. Nah, mungkin di tahap inilah gw dipaksa belajar untuk mengenali siapa sih ‘temen’ yang sebenernya. So…temen itu bukan orang yang ada di saat seneng (sorry…gw harus bilang ini), tapi justru orang-orang yang mendekat di saat kita susah. Mungkin orang-orang itu gak bisa kasih kita uang, kesempatan yang lebih baik, atau bahkan cuma sekedar kata-kata pembangkit semangat. Nggak sama sekali. Karena, orang-orang itu sama sekali gak memberikan semua yang gw sebutin tadi. Tapi, mereka cuma diam…namun ada. Dengan kesederhanaan mereka, mereka mungkin nggak berani bicara karena mereka tau gw dulu ’setinggi apa’. Jadi, mungkin mereka lebih baik memilih diam, namun mereka berusaha tetap ada. Tetap ada saat gw ngerokok sambil ngomel-ngomel di parkiran motor, tetep ada saat gw makan di Warteg, tetep ada saat gw minum teh manis di warung rokok gardu listrik belakang kantor. Dan….again, mereka diam…namun tetap ada.  But, you know what….ternyata mereka juga yang menampar kesadaran gw buat bangkit. Karena….mereka seperti penonton setia drama kehidupan gw selama ini. Sebuah kehidupan yang memiliki berkah untuk karier secepat roket, dan menyandang gelar ‘raising star’.

Mereka juga tetap ada, di puluhan kali gw gagal dan gagal lagi mencari kerja di perusahaan lain karena berbagai hal. Dan, mereka tetap diam dalam semua kekecewaan gw. Mereka pun tetap ada di saat gw memaki-maki hidup ini yang udah menghilangkan jabatan gw sekejap mata, dan mesti ngejalanin kerjaan layaknya staff junior (cuma moto copy, nyebarin Minute Of Meeting, Nyiapin data-data presentasi, nganter surat kemana-mana, dan nungguin temen-temen sejawat gw yang mendapat perlakuan ‘jauh lebih istimewa’ saat mereka meeting seharian). Hmmm… mereka tetep ada.

Sampe suatu saat, gw berfikir gak mau lagi membuat drama hidup gw ini terlalu panjang untuk mereka tonton dalam plot skenario yang sama. Yup.. gw mesti bangkit dari kematian gw. Dan…itu udah keputusan gw sendiri, tanpa ngarepin bantuan dari semua kenalan gw yang udah capek gw harapkan dan tunggu.

So…tibalah gw di pagi itu. Pagi dimana untuk pertama kalinya dalam satu tahun terakhir, gw berani lagi menatap garangnya sang mentari. Untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir, gw kembali berani menantang hari. Dan…gw pun pergi ke kantor dengan tersenyum, meskipun gw masih tetap gak tau apa kerjaan gw di hari itu (hehehe..maklum, lagi jadi staff junior, kerjanya adalah tergantung siapa yang nyuruh aja…). Dan memang, sejak itu gw lebih banyak menyibukan diri gw untuk bersyukur di banding mengeluh, untuk bersujud dibanding menangis, dan untuk kembali selalu memberikan yang terbaik terhadap apapun yang gw lakukan saat itu. Sekecil apapun kerjaan gw, gw harus kembali memberikan yang terbaik untuk itu!!

Walhasil, 3 bulan setelahnya,  bos gw (yang udah memposisikan gw dalam posisi terabaikan sebagai hukuman gara-gara gw mo di tarik oleh sebuah divisi lain) bilang…ada indikasi kok gw kayaknya mo ditarik ke bagian lain, dengan fungsi dan kerjaan yang lumayan jadi sorotan. Kali ini, ada 4 divisi yang mau narik gw. Jadi, saat itu gw masih di suruh berfikir, karena dia juga bilang dia nggak bisa nolak 4 divisi itu. Saat itu gw ketakutan setengah mati, dan langsung bilang kalo gw sama sekali gak tau dan gak pernah terlibat untuk semua itu (trauma banget gw dengan hukuman dari dia saat gw mencoba pindah ke divisi lain itu). Tapi, dia bilang, dia juga tau bahwa semua permintaan itu di luar sepengetahuan gw. Huft…lega banget gw…. Lo bayangin kan, udah staff junior, di kucilkan, nanti malah makin dikucilkan lagi. Gimana rasanya coba ? :)

Perjalanan pulang ke rumah naek motor, nggak setenang pada saat sampe rumah gw liat ada 16 miskol di hape gw. Salah satunya, direktur HRD gw. Gw panik, dan sempet mikir apa lagi nih kesalahan gw sehingga semua bos nyari gw kayak maling gini ?? So…dengan keberanian yang tersisa, gw telpon direktur HRD gw, dan dia bilang per besok gw udah kembali menempati jabatan yang ‘very….very…..very…powerfull’

Well…teman…GOD has spoken…

So…besok paginya, hidup memang telah kembali berputar 180 derajat. Dengan power gw, satu satunya yang ada di benak gw adalah membalaskan dendam gw terhadap ’sekelompok orang di satu divisi’ yang dulu telah memfitnah gw, mencoreng-moreng kerja Divisi gw, dan sampe semua itu membuat Divisi gw bubar jalan. Yup…itu yang pengen gw lakukan. Dan, saat ini pun menghancurkan mereka semudah gw membalikan telapak tangan.

So…gw mulai merancang hal-hal yang teramat menyakitkan buat mereka. Jauh lebih menyakitkan dari apa yang pernah gw alami. Dan….pada waktunya gw menarik pelatuk…. well….

Gw gak bisa (Hiyaaaaa!!!!).

Gw ngerasa hidup gw udah jauh lebih mulia untuk hal-hal yang cuma sekedar bales dendam seperti itu. Buat apa ? Buat membuat diri gw sama aja dengan mereka dengan segala taktik busuknya mereka itu ? No way!!!

Percuma aja gw udah di didik ‘dengan teramat sangat keras’ oleh hidup gw selama setahun lebih kemaren. Dan…saat ini, gw tau gw sudah jadi orang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Jadi, meskipun ‘bara’ itu masih ada di mata mereka (seakan mereka sekarang selalu pasang kuda-kuda saat gw hampiri, karena mereka tau bahwa gw akan dengan sangat mudah menghancurkan mereka kalo gw mau), selama ini gw selalu bisa memaafkan semua perbuatan mereka ke gw, dan membuat mereka jauh lebih produktif lagi…dan lagi (meskipun itu bukan hal mudah dilakukan kepada sekelompok orang yang memiliki rasa benci, takut, namun gak berdaya kepada kita).

Dan…setelah itu….beberapa kesempatan emas pun mulai berdatangan….dari hal-hal yang dulu terasa teramat jauh untuk gw raih…

Apakah gw sukses ? Yup. Apakah itu semua karena kemampuan gw ? Nope!!

Semua itu…karena semua kebisuan dari ‘teman-teman sejati gw’… yang selalu dalam diam…namun ada.

“Saat kita sedang jatuh, seperti kita sedang tenggelam ke dasar danau. Terasa lama, dan menyesakkan. Namun, manakala kita sudah menemukan ‘dasar’ danaunya, maka semua kekuatan alam pun akan membantu kita untuk melesat naik kembali ke permukaan dengan kecepatan yang tak terduga…” (My Own Quote)

So…sahabat yang sedang jatuh… kuatkan diri kamu, dan temukan ‘dasar’mu… :) :) :)

Jakarta cerah, 7 April 2011

(Sebuah kisah yang seharusnya gw ceritakan kepada seseorang secara langsung…. dalam sebuah pertemuan yang tak kunjung terjadi)

Dan..hati itu masih mencari…

Januari 5th, 2011 by rie76

Tulisan yang aku colong dari Buku Harian si Bram (sambil meratap-ratap berdo’a biar si Bram nggak sampe tau..hiiiiiyyy….) :

Kadang hidup memang sering banget ngasih kita kejutan-kejutan. Ada kejutan manis, ada kejutan pahit. Ada kejutan menyedihkan, ada kejutan menyenangkan. Ada kejutan yang di inginkan, dan ada kejutan yang tidak di inginkan. Itu kalo menurut kata-kata banyak orang yang sering banget berseliweran dengan genit di telinga saya.

Namun, apakah semuanya harus sejelas itu ? Seperti membedakan antara warna hitam dan putih ? Hmm… Life would never be that simple, kalo menurut saya. Memang sih ada tipe-tipe orang yang bisa take it easy dengan semua yang sedang di alamin (apa kamu juga termasuk tipe yang ini ?). Tapi, ada juga beberapa tipe orang yang nggak bisa nerima begitu saja semua kenyataan yang di hadapi, tanpa terlebih dulu mengunyah-ngunyahnya dengan semua logika pemikiran yang dia miliki.

I’ve met a girl. Yup…a girl (coz saya masih normal).

Dan…somehow, dia langsung menjadi sosok yang seperti memenuhi setiap detik di hari saya. Am I fall in love ? Could be, or not. Sekali lagi, saya ingin share kalo hidup kadang nggak semudah membedakan warna hitam dan putih. Dan seperti beberapa roman picisan yang banyak di ceritain di novel-novel abg, nggak satu detikpun saya jalanin tanpa ada bayangan senyuman manis dia di angan-angan saya. Bahkan, sampe pas saya lagi di tilang sama Pak Polisi di atas jembatan Semanggi, kok malah jadi terasa indah gitu karena wajah anak itu terus menari-nari menggantikan wajah si Bapak (Maaf ya Pak…ini sebenernya alesan saya kenapa saya cengar-cengir waktu Bapak tilang..Jangan marah ya Pak..).

Dan..memang bener. Berawal dari rekaan tentang gimana sih sosok cewek misterius dari dunia maya itu, ternyata malah menghadirkan kenyataan yang jauh melebihi apa yang saya bayangkan. Itu saya buktikan saat saya dateng ke pertemuan yang udah kami sepakati bersama, di sebuah warung kopi yang ngejual kopi segelas seharga 50 ribu itu. Terus terang, gemeteran juga sih saat mo ketemu. Bukan karena apa-apa yah…tapi kepala saya langsung pusing ngelihat harga segelas kopi di situ, sementara yang ada di bayangan saya bahwa Kopi enak buatan Mpok Jum di kantin kantor saya aja cuma bernilai 5000 perak. Itupun udah berikut bonus senyuman tulus penghias malam saat si Mpok Jum menghidangkan kopi itu di depan hidung saya. Tapi, demi membuktikan apa yang udah saya bayang-bayangin sebelumnya terhadap sosok si cewek maya, yaa…saya jabanin juga deh si kopi 50 ribu segelas itu.

Jadi, sore itu kami ketemuan. Dia megang sebuah alat, yang sumpah saya nggak tau itu apa. Dengan anggun, dia jelasin itu reader..karena dia rupanya hobby membaca. Yah…whatever lah nama alat itu apa, yang penting dia punya hobi yang sama dengan saya. Ngebaca. (Ngebaca buku yah…bukan ngebaca pikiran orang, lho..Eike bukan dukun kalee…). Lalu, obrolan kami langsung berputar-putar kayak gasing. Kesana kemari tanpa ada kendali. Kadang cepet speerti gesitnya si Okto pemain Timnas, atau kadang melambat seperti denger musik keroncong. Namun, apapun itu, saya sama dia bener-bener udah bisa menikmati sebuah quality time yang oke banget. Dan, janji untuk tetap terhubungpun sama-sama kami kumandangkan, waktu pamitan pulang.

Sampai di sini, itu hal yang bagus, bukan ? Yup. hal yang jeleknya adalah, kalo ternyata saya sendiri jadi gak punya cukup banyak waktu untuk lakukan banyak hal dengan dia. Ini gara-gara kondisi kerjaan yang bener-bener ngedadak kayak di serang ribuan tawon yang keluar dari dalem air (eh..emang tawon bisa nyelem, kah ? ). Pokoknya…panik banget deh. Nah, sebagai karyawan kroco kacung kampret kurawa koprol kayak saya ini sudah pasti yang paling ngerasain imbasnya. Udahlah ngerasain langsung efek pemanasan global (karena pagi dan sore saya hobi banget buat sun-bathing di atas motor, waktu pergi dan pulang kerja), sekarang saya dan teman-teman setaraf saya ini juga mesti ngerasain efek dari perubahan organisasi yang ada di kantor. Lengkap deh. Hasilnya, kemaren sore cewek cantik itu telah mulai ‘meradang’ dengan minimnya waktu yang bisa saya share dengan dia. Ternyata, benar-benar nggak sesuai janji-janji saya waktu ‘pemilu’ dulu, bahwa I’ll be there forever for her. Janji emang manis yah….tapi hidup kadang seringnya ngasih kopi yang terlalu banyak, sehingga janji itu nggak lagi terasa manis. Hmm…kopi lagii..kopi lagiii….. Jadi sebel sama si kopi.

Nah…singkat cerita, saat ini dia sedang kesal dan marah sama saya. Dan, saya pun dalam posisi yang cuma bisa bengong aja saat dia ngebacain semua daftar kesalahan saya dengan gaya Jaksa yang lagi nyerang terdakwa. Pasrah aja deh. Cuma, jadi kepikir, sampe tahap ini…ternyata semuanya menjadi tidak menyenangkan lagi. Buat dia, dan buat saya.

Ngomongin perubahan di kantor, bisa dibilang sekarang makan gaji buta. Ada temen yang bilang, “Enak kan ? Gaji tetep tapi kerjaan berkurang ?” Saat itu saya langsung mengangguk-angguk dengan cepat, kayak burung pelatuk. Emang enak sih. Saya yang biasanya kocar-kacir, sekarang mesti nyantai se santai-santainya. Hmm…tunggu dulu. Ternyata itu cuma screen saver doang kok. Karena, begitu si mouse saya goyang dikit….makaaaaaa….tampaklah wajah aselinya!! Meeting sampe malem, nyari data sampe hari sabtu dan minggu, meeting lagi, nyari data lagi, meeting lagi….Hmm…sampe sempet kepikiran sih buat mengganti kegiatan makan dengan menempelkan jarum infus aja biar gak repot buat makan. Saking banyaknya kerjaan tuh (ceileeh…). Nah, sampe tahap ini, saya bener-bener sudah meratap-ratap melolong-lolong nggak tahan dengan kondisinya. Jadi, perubahan organisasi yang tadinya saya cap dengan ‘enak’, ternyata jadi begitu ‘rusak’.

Well…sekarang jadi mo ngapain lagi yah ? Jadi serba takut buat menjustifikasi sesuatu itu baik atau buruk, enak apa nggak enak, sedih atau senang, karena ternyata banyak banget hal-hal lain yang juga saya alamin yang mengajarkan saya bahwa ‘life is un-predictible, indeed’. Mental saya udah bener-bener jatoh kayaknya nih…Saya jadi bener-bener nggak yakin apakah hati saya sudah menemukan beberapa hal sebagai jawaban atas beberapa hal di hidup saya ini..

Dan, pas makan siang tadi, saat si tukang mie ayam dengan semua keramahannya bertanya, ” Gimana Bang, enak nggak mie buatan saya?”. Dengan tegas, saya ngejawab, ” Uhmm…saya gak bisa jawab sekarang. Tunggu dulu besok, kalo saya nggak sakit perut, kalo saya nggak berubah pikiran, kalo saya nggak keracunan, kalo saya nggak ketemu mie ayam lain yang lebih enak buat pembanding, naah…..baru deh saya jawab. Besok ya, jawabannya…”

Ku tutup buku harian Bram sambil senyam-senyum…Hihihi…dasar otak udang nih cowok…..

Jakarta, 5 Jan 2011

Keheningan Pagi..

Desember 10th, 2010 by rie76

keheningan-pagi1Keheningan pagi merajam rusukku. Keheningan pagi meremas jiwaku. Dan tatkala sinar mentari masih tampak tersipu malu, raungan ribuan mesin pun menyambutnya dengan deru.

Keheningan itu terkoyak. Keheningan itu tersentak. Oleh banyak nya semangat yang mendadak menyala gemerlap, ataukah oleh ambisi pemenuhan kebutuhan seperti banteng kalap ?

Setelah itu, tak ada lagi keheningan. Hari telah berjubah kebisingan. Amarah dan caci maki terlontar di setiap meter jalan aspal yang panas. Amarah dan caci maki pun kerap juga terlontar di dalam ruang meeting yang dingin. Amarah dan caci menyelusup dalam nadi kota (atau kita ?).

Lalu, datang sang malam, yang terlebih dulu di endus oleh si pengawalnya yang bernama si pendek sore. Mencoba menawarkan keheningan yang sama dengan sang pagi. Tapi, nampaknya kota ini masih enggan untuk menanggalkan jubah kebisingan. 24 Hour Services, telah banyak di canangkan oleh tempat-tempat tongkrongan. Mungkin sekedar menjawab kebutuhan pasar, ataukah malah ikut mengamini sesuatu yang sangat menyalahi kodrat kehidupan ? Dan, kota pun dipaksa untuk selalu begadang…walau tiada artinya (ingat pesan Bang Haji…)

Siang membara, sore terlara, malam pun terluka. Hanya pagi yang masih terasa murni. Hanya pagi yang masih mampu menawarkan keheningan sejati. Kala otak-otak letih berpeluk diri, dan memanjatkan do’a untuk Sang Maha Suci.

Di keheningan pagi, aku mencari……

 

Jakarta yang berkabut,

10 Des 10.

Ayah..

Desember 1st, 2010 by rie76

Ku matikan handphoneku.

Aku mendengus kesal. Dengan kondisi kantor yang masih belum jelas dan morat-marit kayak sekarang, mendapatkan tugas baru adalah bukan merupakan sebuah prestasi. Tapi lebih terasa sebagai jebakan-jebakan ‘batman’ yang sengaja di pasang untuk orang-orang yang sedang di incar agar merasa gerah dan nggak betah. Karena, apapun yang akan dan bisa di lakukan, toh nantinya akan berbuntut sama aja, berakhir di sebuah perebutan kepentingan dari berbagai macam konflik yang sudah banyak banget terjadi saat ini di kantor. Akhir ceritanya pun jadi mudah di tebak, bahwa setiap keberhasilan adalah credit bagi pihak-pihak yang sedang berada ‘di atas angin’. Sementara pihak-pihak yang berada ‘dibawah angin’, cuma bisa gigit jari dan meratap nggak karuan di sebuah kantin sempit, sumpek, dan pengap di pojokan parkiran. Benar-benar sebuah ‘lukisan hidup’ yang sudah bosan aku lihat.

Belum lagi masalah dari rumah. Masalah pengaturan keuangan yang benar-benar berubah jadi ‘minus’, karena kesalahan pengambilan keputusan yang ternyata bisa berakibat sangat besar di semua sisi kehidupan. Cashflow yang tadinya bisa berjalan dengan tenang, setenang riak danau Singkarak di kampung ayahku, saat ini berubah gonjang-ganjing gak karuan. Ini semua akibat program-program cicilan yang dengan mudahnya kami ambil, dan ternyata sangat berat kami jalani konsekuensinya setiap hari. Setiap bulan, gaji ku mengalir sangat lancar, selancar air sungai Bengawan Solo. Mengalirnya nggak kemana-mana sih, tapi ke para kreditur yang setiap akhir bulan seperti selalu mendapatkan tambahan energi baru untuk rajin meneleponku berkali-kali. Dan, satu per satu mereka akan ‘hening’, manakala sudah ku fax kan stroke pembayaranku yang ku transfer via atm. Lalu, sebagian besar lagi sisa uang gaji itu akan mengalir ke kebutuhan rumah yang lain, bayaran anak sekolah, biaya berobat, perlengkapan sekolah, jemputan, les privat, dan banyak banget cost item lainnya. Kalau di jejer, aku yakin banget semua cost item itu jumlahnya akan sama dengan jumlah cost item dari sebuah proyek yang bernilai milyaran rupiah di kantorku. Hanya, value dari masing-masing cost item itu saja yang beda, karena nilai cost item di rumahku jauuuuuuuuuhhh lebih kecil jika di bandingkan dengan yang di proyek. Tapi, buatku, sama saja. Kehilangan pengendalian cost item di proyek, bisa berarti penilaian ketidak mampuanku dalam bekerja. Di sisi lain, kehilangan pengendalian cost item di rumah, bisa berarti penilaian ketidak mampuanku dalam menjadi kepala keluarga. Intinya, dua duanya akan berbuntut kepada ketidak mampuan. Dan, untuk itulah aku berusaha untuk tetap kuat menaruh jidatku di keset kaki pintu masuk kantor ini, agar tetap bisa menerima slip gaji setiap bulannya.

Well..

Di tengah semua carut-marut hidupku yang kacau balau itu, dari pagi tadi aku sudah menerima setidaknya 7  kali misscall dari Ayah.  Bayangin, 7 kali misscall !! Semua panggilan itu jadi misscall, karena memang aku nggak pernah angkat panggilan telepon itu. Aku benar-benar ngerasa lagi nggak punya tempat di hatiku, meskipun sedikit, untuk dapat menampung keluh kesah yang biasa di bicarakan oleh Ayah kepadaku. Dari dulu, setiap kali teleponnya kan selalu seperti itu. Ngeluh inilah…ngeluh itulah. Apa Ayah nggak tau kalo anaknya ini juga lagi kelilit masalah ? Dan, kalau dulu sih, aku masih bisa ‘agak lapang’ lah, sehingga aku masih bisa ‘menampung’ semua keluh kesah yang disampaikan Ayah. Tapi sekarang, aku sedang ngerasa bener-bener penuh. Jadi, kubiarkan saja telepon dari Ayah itu. Sampai 7 kali, biarkan saja. Toh aku juga manusia. Aku juga berhak untuk ngerasa sedang banyak masalah, bukan cuma terus-terusan jadi penampung masalah.

“Itu…Kakak kamu. Coba deh kamu bicara lagi ke dia. Kan nggak bagus kayak gitu. Ayah sudah coba bicara, tapi kayaknya masih belum bisa dia terima. Kalau kamu yang bicara, mungkin dia akan mau dengar…” 

Itu kalimat Ayahku yang terakhir aku dengar saat Ayah nelepon aku, 2 minggu yang lalu. Yah…selama dua minggu, aku memang sama sekali nggak pernah mau nelepon Ayah, dan gak mau juga nerima telepon dari Ayah. Aku lagi bener-bener capek, aku pengen istirahat. Di telepon itu, Ayah meminta tolong aku untuk bicara dengan salah satu Kakak ku, mengenai sebuah urusan keluarga. Saat itu, memang Kakak ku tengah terlibat suatu masalah. Tapi, mo sampai kapan sih Ayah mikirin kehidupan masing-masing anaknya ? Mo sampai kapan ? Kami kan semuanya sudah gede, sudah punya keluarga masing-masing.  Jadi, mo sampai kapan di recokin sama ini itu dari kekhawatiran dan pikiran Ayah ?

Seringnya malah, kekhawatiran Ayah terhadap kondisi kami itu, aku rasa sudah mulai mengada-ada. Karena, kejadian sebenarnya memang nggak aku rasakan separah itu. Tapi, dibanding memecahkan masalah itu, menjelaskan dan menenangkan perasaan Ayah terhadap semua kekhawatiran yang timbul adalah hal yang jauh lebih susah dan ribet. Juga, makan waktu. Karena, ternyata seringnya nggak bisa beres cuma sekali telepon aja. Tapi mesti berkali-kali, baru deh si Ayah bisa tenang. Itu kan…makan waktu.

Kring…

Telepon ku kembali berbunyi. Kali ini dari Kakak ku. Hhh..mau apa lagi ini ? Pasti si Ayah ngadu deh ke Kakak ku, masalah teleponnya yang nggak pernah mau aku terima hari ini. Dengan malas, ku angkat telepon dari Kakak ku itu..

“Yup..”

“Rie…kamu ke Bandung malam ini juga. Harus!”

Mendadak, sebuah perasaan yang teramat dingin meresapi hatiku. Dan, perasaan itu langsung berubah menjadi sebuah perasaan khawatir yang teramat sangat. Menimbulkan butiran keringat dingin di dahiku. Meluluh lantakkan segala persendian tubuhku. Ada apa yah ?

Dua jam perjalanan ke Bandung di malam hari, dengan menggunakan Travel,  sama sekali nggak bisa aku nikmati. Berjuta pertanyaan bergayut di benakku sepanjang perjalanan. Jantungku pun berdetak semakin kencang dan semakin kencang. Hujan besar yang mengguyur sepanjang perjalanan, membuat suasana hatiku semakin di cekam ketakutan tentang sesuatu yang aku sendiri masih belum tau.

Sesampainya di terminal, aku langsung naik taksi menuju rumah Ayah. Tak kurasakan lagi perasaan lapar yang melilit perutku. Aku hanya ingin bisa segera ketemu Ayah. Tak satupun telepon atau sms ku ke Kakak yang di jawab. Itu semuaHanya satu hal yang aku tau, aku mesti cepat ke rumah Ayah.

Sampai di sana, suasana rumah sederhana itu terasa sangat hening dan dingin. Ku lihat mobil Kakak ku sudah terparkir di depan halaman. Dengan tergesa, ku masuki rumah Ayah. Tak ada siapapun yang ada di ruang tamu. Jadi, aku langsung saja menerobos ke kamar ayah.

Di sana, Kakakku terlihat sedang berbicara dengan Ayah. Posisi Ayah saat itu sedang terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Melihat kedatanganku, tangan Ayah langsung melambai. Akupun mendekatinya, dan memeluk tubuhnya. Dan, aku baru menyadari, bahwa tubuh itu tidak lagi gempal, tidak lagi kekar. Sosok Ayah yang dulu ku kenal suka berolah raga, sehingga tubuhnya menjadi gempal itu, saat ini kurasakan hanya tinggal tulang belulang yang di bungkus oleh daging tipis. Kurasakan nafasnya pun tersengal, jauh berbeda dengan nafas Ayah saat memelukku dulu setiap kali aku tercekam perasaan takut. Jemari tangannya lemah menggenggam tanganku, sangat jauh berbeda dengan genggaman tangannya yang kokoh saat menggenggam tanganku di setiap kali Ayah mengajak ku jalan-jalan ke Pasar Baru, atau ke Ragunan, atau ke tempat-tempat lain yang selalu bisa menjadi pengukir indah masa-masa kecilku dulu.

Namun, mata itu masih sama. Mata yang penuh wibawa, dan memancarkan semangat  juang yang tak pernah reda. Semenjak Ibu tiada, Ayah memang memilih berjuang sendiri untuk menjalani hidup. Dan, api perjuangan itu kini masih jelas aku lihat.

“Kamu …dateng  juga, Rie. Ayah kangen sekali ..sama kalian..” bisik Ayah, di antara nafasnya yang tersengal. Ayah menatap ku dan Kakak ku bergantian, seuntai senyum pun menghiasi wajahnya. Aku dan Kakak ku hanya mampu terdiam. Pelan-pelan, mulai kusadari betapa kacau dan kelirunya kehidupan dan langkah yang telah aku jalani. Dan, aku tiba-tiba menjadi teramat merasa bersalah untuk itu…

“Ayah coba hubungi kalian sejak dua minggu lalu..karena Ayah tahu, mungkin Ayah nggak akan lama lagi bisa ada buat kalian…”

“Ayah…sudahlah, jangan bicara seperti itu..” potong Kakak.

“Tolong…” jawab Ayah, seraya mengangkat sebelah tangannya, ” biarkan Ayah selesai berbicara dulu…” lanjutnya. Kami pun kembali terdiam, dalam posisi duduk di pinggir pembaringan.

“Selama ini, Ayah sudah coba lakukan yang terbaik yang Ayah bisa, untuk kalian. Ayah tau, Ayah sudah begitu keras dalam memperlakukan kalian. Dan, mungkin di antara kalian ada yang berfikir, kenapa kalian nggak pernah Ayah berikan fasilitas-fasilitas yang bisa kalian nikmati seperti anak-anak lain yang punya orang tua dengan jabatan seperti Ayah dulu. Ayah masih ingat setiap kali penolakan Ayah untuk membelikan hal-hal yang kalian inginkan. Semua permintaan kalian itu, masih Ayah ingat…” sejenak Ayah terdiam dan mengatur nafasnya yang sudah semakin sesak.

“Namun, saat ini, kalian mesti tau alasannya. Ayah lakukan semua itu, meskipun dalam hati Ayah menangis karena tidak tega, namun semua itu karena Ayah ingin kalian bisa segera belajar akan kerasnya kehidupan ini. Bahwa, segala sesuatu itu mesti di peroleh dari perjuangan, bukan karena kemudahan fasilitas. Dan, sampai detik ini, Ayah selalu merasakan kebanggaan terhadap semua pencapaian kalian di setiap nafas yang dihembuskan. Cuma itu niat Ayah. Namun, bila hati kalian sempat terluka saat menjalaninya, saat ini Ayah ingin minta maaf kalian….”

Beberapa kali Ayah terbatuk-batuk. Aku langsung memeluk kembali tubuh Ayah dari samping, seraya memijat-mijat pundaknya. Tak kuasa ku tahan air mata yang begitu saja mengalir membasahi pipi…

“Namun, kehidupan ini ternyata jauh lebih keras dari apa yang Ayah perkirakan. Karena, kehidupan ini juga telah sampai membuat kalian berdua begitu mati-matiannya untuk berjuang demi keluarga, dan sudah mampu memutuskan tali silaturahmi kita bertiga. Itu yang Ayah rasakan belakangan ini. Jadi…mungkin ini hal terakhir yang bisa Ayah berikan untuk kalian berdua. Kalian bisa jual rumah kita di Jakarta itu, yang nanti uangnya bisa kalian pakai untuk meringankan beban-beban kehidupan yang selama ini menghantam kalian setiap hari. Ayah yakin, itu bisa sedikit membuat kalian bernafas lebih lega, dan untuk kembali mau menerima telepon dari Ayah…”

Aku dan Kakak ku langsung bersimpuh di hadapan Ayah, dan memeluk kaki Ayah dalam tangis…

“Apapun, nggak ada artinya lagi…bila Ayah harus kehilangan kalian berdua. Karena, cuma kalian berdua lah yang membuat Ayah merasa seolah-olah Ibu masih ada menemani Ayah..Ayah takut untuk sendirian…”

Setelah mengucapkan itu, Ayah langsung kembali rebah. Tak terkira paniknya Aku dan Kakak. Kami berdua pun langsung bekerja sama untuk menggotong Ayah masuk ke mobil, dan membawanya ke rumah sakit. Dan, juga baru kami sadari, inilah kali pertama kami berdua kembali melakukan hal yang sama, setelah bertahun-tahun kami menjalani kehidupan kami masing-masing, dan hanya berhubungan via telepon atau email. Inilah kali pertama aku kembali memegang tangan Kakak ku, setelah bertahun-tahun. Dan, inilah juga kali pertama setelah bertahun-tahun, dimana aku merasakan menjadi penumpang, dan yang menyetir mobil adalah Kakak ku. Semua ini, telah begitu lama tidak pernah kami lakukan lagi…tanpa kami berdua menyadarinya..

Ku tatap wajah Kakakku yang pucat dan cemas saat mengendarai mobil ke rumah sakit. Ku genggam tangannya, dan dia pun menoleh kepadaku.

“Kak…kita akan hadapi ini berdua kan ? Pokoknya…Ayah mesti sembuh…” kataku, seraya menatap matanya dalam rasa ketakutan yang teramat sangat. Kakak ku menatapku beberapa saat, dan kurasakan kembali sebuah ketenangan jiwa yang dipancarkan lewat matanya. Seperti ketenangan jiwa yang selalu dia pancarkan, saat-saat dia melindungiku dari segala ancaman anjing gila, tukang palak, dan semua ancaman yang datang di dalam kehidupan masa kecilku dulu.

“Iya..Dek. Kita akan hadapi semua ini berdua..Dan, Ayah harus sembuh.” jawabnya tegas.

Jakarta yang cerah, 1 Desember 2010

Sebuah hadiah ulang tahun untuk putraku tersayang.

* Bukankah masa kecil adalah sebuah kekuatan yang tak terkira, saat kita menjalani hidup yang semakin menggila ?*

An Indecent Proposal…

Nopember 24th, 2010 by rie76

Did you know ?

so many times I tried to understand, so manytimes I know nothing. Steping far to leave all the pain I ever had back then, just by smile you took me back in here. Tryin to figure out what the real it seems, and got nothing in vain.

 

Did you see ?

I love you like a bloody dog’s roar. Missing you in the moon glow. But all I can see just a particular scheme of your scenes. Yes I know it would never be the same. Coz I cant turning back the time. But, I always have my own dream to live…even it none of yours.

Did you ever heard ?

 When this heart missing the beats while whispering your name, in my darknest night. The voices of an angel catch me from the fall. Turning it all back to the rythm it should be. Just, hear my soul of the sins.

And…did you ever realize ?

That I always hate surprise, till the time I received this one. Have you ever been in the moment when your past, your now, and your future collides outaway from your reach ? Thousands steps are fade away, only by a smile… the smile of you. And…the surprise, is you.

So…My dearest light of the soul…

Would you marry me, to know..to see..to hear..and to realize all those things I just said ? Coz…I’m none without you, while you’re second to none….

(just a heart spoken)

Aku kehilangan…

Nopember 8th, 2010 by rie76

Aku kehilangan…
Semua yang aku yakinin dan aku perjuangkan..Semua hal yang aku pertahankan. Dan…di sini aku kehilangan.

Satu sisi hatiku bertanya, apakah ini sebuah ujian untuk sebuah kemuliaan ? Saat aku mesti bisa mengalahkan harga diri dan ego ku untuk ku ubah menjadi untaian senyum ?

Aku kehilangan, namun aku ikhlaskan. Apapun yang ku lakukan, adalah untuk mengukir banyak senyum di wajah yang bersinar. Dan…aku mungkin tak akan terlalu merasa kehilangan…

Namun…aku kehilangan. Dan…aku mengikhlaskan……

Sesuatu…yang bernama Cinta.

Nopember 3rd, 2010 by rie76

taken1Agak rumit otak saya untuk mencerna dan memaknai sebuah kata simple, pendek, dan sederhana ini. Sebuah kata-kata yang sering terdengar untuk di ucapkan, dinyanyikan, atau di buat sebagai sebuah prasasti dari hati-hati yang sedang berbunga. Sesuatu itu….bernama Cinta.

Seumur hidup saya yang gak kalah rumit ini, sudah banyak banget saya mendengar atau merasakan beberapa parameter dasar mengenai si Cinta ini. Namun, setiap kali itu juga, hati saya bertanya…apakah ini benar Cinta ? Ataukah perasaan tersebut hanya lahir dari sebuah bentuk tanggung jawab, pengorbanan, pengabdian, rasa sayang, atau hal-hal lain yang selalu saja bisa membuat kita terikat kepada orang lain atau hal lain.

Saat saya masih ingusan, Papa Mama saya (terutama si Mama) sering banget membisikan kata-kata Cinta itu di telinga saya, sesaat sebelum saya terlelap tidur. Setelah itu, apa yang saya lihat adalah bagaimana kerasnya beliau berdua untuk menjalankan berbagai konsekuensi yang timbul dari si kata-kata Cinta yang sudah terucap. Mereka berdua saling bergantian begadang untuk menjaga saya saat saya jatuh sakit, mengantar saya pergi ke sekolah saat saya masih takut untuk berangkat ke sekolah sendirian, selalu ada di setiap kali saya meraih prestasi untuk menjadi orang yang pertama kali bisa memeluk saya dengan hangat dan memberikan selamat, selalu menjadi kuat untuk menjadi ‘tembok ratapan’ saya saat saya bersedih, dan masih banyak lagi hal hal menakjubkan yang sudah mereka lakukan untuk saya, baik yang saya tau ataupun di luar sepengetahuan saya. Jadi, sampai titik itu, saya menyimpulkan bahwa Cinta adalah sesuatu yang selalu bisa memanjakan dan menjaga kita dalam menjalani hidup dengan sempurna. Namun, saat Mama wafat, maka semua hal itu menghilang begitu saja. Jadi, rupanya Cinta juga mengenal batas kadaluwarsa kah ?

Selanjutnya, beberapa roman picisan juga mewarnai hidup saya. Di beberapa ‘kisah ingusan’ yang terjadi, saya belajar bahwa saat mengucapkan Cinta ke orang lain, ternyata kita di tuntut untuk bisa selalu anter dia kesana-sini, menjadi orang yang sok-sok dewasa dan bijak setiap kali dia mengeluh dan terjatuh (meskipun saat itu, hidup saya saja masih mentah nggak karuan), mesti hadir di setiap malam minggu, mesti temani dia belajar, mesti mengeluarkan beberapa ‘biaya ekstra’ untuk jalan, makan atau nonton, mesti menemani Bapaknya main catur, mesti memuji segala masakan dan kue buatan ibunya, dan mesti ini-mesti itu. Nah…di fase ini, saya dengan gagah berani berteriak pada dunia, tentang sebuah kesimpulan baru akan Cinta. Bahwa…Cinta itu : Capek !

Ok…kita lanjut ? (Prok-prok-prok….tepuk tangan bergemuruh datang dari segala penjuru peserta seminar Cinta).

Siiip…sodara-sodara!! Stay tune.

Next…saya mulai jatuh cinta yang namanya sepeda motor. Apapun bentuk sepeda motornya, saya selalu suka. Jadi, dengan gaji saya yang pas-pasan, saya selalu berusaha untuk nabung dan ngebeli motor yang udah saya impikan sejak lama. Satu motor terbeli, mimpi lagi buat bisa punya model yang lain. Kebeli lagi, mimpi lagi buat model yang lain. Begitu terus. Sampe Papa saya ngamuk-ngamuk, saat garasi rumah jadi penuh sama koleksi motor saya yang begitu narsis pada mejeng di situ. Motor tua, motor baru, apapun deh. Kondisi ini tentu aja membuat si papa sebel banget, karena mobilnya mesti ngalah buat parkir di jalan depan rumah. Jadi, setelah di omelin Papa habis-habisan, di ceramahin gimana pentingnya sebuah perencanaan keuangan yang baik, dan bahwa hidup itu gak bisa egois untuk memaksakan keinginan pribadi tanpa mikirin kepentingan orang lain, saya pun tiba pada sebuah kesimpulan baru. Cinta…adalah mahal dan nyebelin.

Fase berikutnya, saya nikah dan punya anak. Hmm…saya selalu semangat bila ngomongin bout the kids. Karena mereka selalu bisa menjadi matahari buat hidup saya yang mungkin lagi mendung. Menjadi angin segar saat saya lagi sesek nafas karena masalah kantor. Menjadi segala sesuatu yang indah, yang membuat saya mencintai mereka. Nah…Cinta lagi. Jadi…di fase ini saya pun melakukan banyak hal-hal yang sama seperti Papa-Mama saya dulu, untuk menjalankan konsekuensi dari sesuatu yang bernama Cinta. Cuma, bedanya mungkin, sekarang saya mulai sedikit-demi sedikit tau gimana beratnya ngelakuin semua itu, dan ngelakuin semua hal-hal yang mungkin juga dilakukan Papa-Mama di luar sepengetahuan saya dulu. Jadi, untuk hal-hal itu, saya jadi bener-bener bisa ngerasain sendiri, dan memaknainya dengan kapasitas otak dan pemikiran yang saya punya.

Pulang pergi ke kantor yang selalu kena macet berjam-jam. Kena hujan angin, dan mesti selincah kancil buat nyelap nyelip di antara biskota, beberapa kali kena ranjau paku yang ‘dengan baik hatinya’ di tebarkan oleh orang-orang yang punya mental Raja Tega (gak mau su’udzon sih…tapi kenapa setiap kali kena paku, gak jauh dari situ pasti udah ada Tukang Tambal Ban yang akan menyambut kita dengan senyuman yang teramat indah ya ? Hmm…pasti cuma kebetulan aja deh…). Belum lagi dimaki-maki sama bos di kantor, yang selalu aja ngedadak jadi hapal banget di luar kepala tentang nama-nama jenis binatang yang ada di ragunan. Ngerasa gak diperlakukan adil, ngerasa di gaji kecil, ngerasa ini ngerasa itu. Tapi, dengan semua hal yang bener-bener gak enak itu, tetep aja saya bolak-balik setiap hari ke kantor, demi mempertahankan slip gaji. Buat apa coba ? Ya sudah pasti, karena saya ingin tetep bisa berjuang buat kids…karena saya mencintai mereka jauh lebih besar dari harga diri saya sendiri. Nah…tuh. Jadi, bisa di tarik kesimpulan, bahwa .. Cinta itu, tambeng ! (keras kepala, keukeuh, dan kadang terkesan bodoh).

Nah…sodara sodara…selamat!!

Sampai saat ini, kita sudah sukses mendefinisikan Cinta ke dalam 4 kalimat yang lugas. Tapi, jangan pulang dulu…sebelum mencicipi hidangan yang sudah disiapkan oleh pihak keluarga kedua mempelai. *Hiiyaaa….kebiasaan jadi MC kawinan nih..Maap..maaap…**

Maksudnya, jangan pulang dulu karena masih ada satu definisi lagi tentang Cinta yang mau saya bagi. Selama 7  tahun kerja, saya gak tau kenapa udah di anugerahi buat ngurusin sekumpulan orang, yang saya sebut Team. Mereka berasal dari orang-orang lingkungan marginal. Ada yang bekas OB, bekas kurir surat, bekas satpam, dan lainnya. Semuanya di tumplekin jadi team saya, dan dalam waktu singkat saya ditugasi buat membentuk mereka jadi tenaga profesional, sesuai tuntutan dan kebutuhan perusahaan. Lalu, kumpulan orang itu makin banyak, dan makin banyak. Maka, kami sepakat buat menyebut kami sebagai ‘Keluarga Besar’. Itu bukan sekedar nama, tapi kami benar-benar merasakan sebagai saudara satu sama lain. Dan, selama 7 tahun, udah berkali-kali saya mendapatkan tawaran kerja di tempat lain, tapi anehnya saya selalu balik lagi dan balik lagi. Kenapa ? Karena, saya begitu mencintai mereka. Jadi, saya lebih memilih untuk berjuang buat mengembangkan mereka dulu, buat menghancurkan rasa tidak percaya diri mereka dan membangkitkan keberanian untuk mengejar minat mereka pada mimpi-mimpi setinggi bintang. Jadi, selama saya belum merasa selesai melakukan tugas itu, saya gak akan ninggalin mereka. Dan..begitulah kejadiannya.

Sampai akhirnya saya (atau kami) sampai pada hari dimana kami harus berpisah karena sebuah strategi perusahaan, maka banyak air mata yang mengalir laksana banjir di jakarta senin kemarin. Banjir airmata itu bener-bener membuat setiap kami jadi lumpuh total, gak bisa mikir, dan cuma bisa meratap nggak karuan. Saya menemukan gambaran, bahwa ternyata bersama mereka selama 7 tahun, telah membuat saya begitu mencintai mereka, dan begitupun sebaliknya. Coba…kalo aja mereka cuek sama saya, atau bukan di team saya, nggak pernah bantu saya, maka saya yakin saya gak akan mencintai mereka. So….hmm…Cinta itu, bisa juga berarti : mesti berbalas untuk bisa tertawa bersama saat bahagia, dan menangis bersama saat sedih.

Nah…udah ada lima definisi, sodara-sodara sekalian!!!

Jadi…pulang seminar ini, saya harap kalian bisa tertib di jalan, dan patuhi rambu-rambu lalu lintas. *Halah…* Maksud saya, mungkin 5 definisi ini cukup deh jadi hal yang bisa jadi ‘pintu masuk’ kita untuk lebih mengerti tentang sesuatu..yang bernama Cinta.

Tapi…baru aja tadi pagi, saat saya terkantuk-kantuk di kantor..saya chat sama seseorang yang udah saya anggap sebagai ‘councelor’ saya selama ini.

“Jadi…menurut Mas…Cinta itu apa ?” tanya saya, via chatroom.

“Kamu sudah merasa banyak menemukan definisi Cinta ya…Rie?”

“Iya Mas…kira-kira, mana yang bener ya ?”

“Semua definisi itu benar, dan masih milyaran lagi definisi yang masih bisa di temukan dalam hidup. Tapi, yang mesti kamu inget, Cinta itu bukan untuk dipelajari, bukan untuk di kenali, dan bukan untuk di ketahui. Cinta itu, untuk dirasakan, dan dilakukan. Bahkan, dalam bahasa Ingris, Cinta itu bukan kata sifat, bukan juga kata benda. Tapi, Cinta adalah kata kerja. Cinta gak butuh buku petunjuk, Rie. Karena, Cinta sejati, adalah bahasa Illahi untuk membawa hal-hal baik untuk kehidupan…”

Oh….gituuu….** cengar-cengir gak jelas..**

 

Jakarta Mendung Yang Bingung,

3 Nov 2010

Sesaat Setelah Dia Pergi…

Oktober 26th, 2010 by rie76

angel-sad23Aku tahu…..

 

Mungkin hidup memang telah dirancang begitu indah untuk di jalani. Setiap detailnya. Setiap detiknya. Seperti rangkaian gerbong kereta yang melaju teramat cepat, dan tegas meraja di atas sebuah tujuan akhir yang pasti. Sebuah tujuan akhir yang sama sekali nggak bisa di tawar lagi. Semenjak gerbong kehidupan itu berangkat perlahan dari stasiun asalnya, yang bernama ”Kelahiran”. Bergerak lambat pada awalnya. Lalu, semakin cepat, semakin cepat dan semakin cepat lagi. Sampai pada suatu saat kita ternyata baru tersadar, bahwa hidup sudah berjalan menjadi sangat cepat. Teramat cepat bahkan, bila hanya untuk dipahami atau dihayati. Bahkan, untuk sekedar dipikirkan dan di maknai. Semuanya berlalu tanpa kita sadari. Tangis, tawa, sedih, senang, rindu, marah, benci, dendam, dan semua hal-hal indah lainnya yang akan menggoreskan warna-warna hari pada setiap manusia yang menjalaninya. Dan, sebagai sebuah anugerah, masing-masing manusia telah di berikan ’kereta’ yang berbeda beda.  Meskipun dalam perjalanan rel-nya yang terpisah-pisah, seringkali akan ada jalur-jalur yang menyatu dalam sebuah titik junction, yang membuat kedua rangkaian gerbong kereta dari dua manusia dapat bertemu dan menyatu. Bahkan, malah penyatuan jalur rel kereta itu akan membuahkan gerbong-gerbong baru untuk di tarik oleh sang lokomotif. Sehingga, kereta dua manusia tadi menjadi lebih panjang, dan lebih indah. Dalam konsep akan sebuah penyatuan, maka tak mungkin dua kereta yang telah menyatu tadi masih memiliki dua lokomotif sebagai penggeraknya. Maka, salah seorang diantaranya, harus merelakan dirinya untuk menjadi gerbong pengikut, saat tujuan-tujuan yang akan di lewati telah di sepakati bersama dengan manis, di atas sebuah ikatan janji yang teramat suci.

 

Namun ada kalanya, jalur rel juga mampu memisahkan dua kereta yang telah bersatu, untuk kembali menempuh perjalanan di atas rel yang berbeda karena perbedaan tujuan yang dulu telah disepakati dan terikat kuat oleh sesuatu yang bernama….Cinta. Sayangnya, jika itu terjadi, masing-masing kereta akan sibuk membagi-bagi, atau bahkan mengambil alih semua gerbong-gerbong kecil yang telah terbentuk selama mereka bersatu. Dua kereta itu, kemudian akan kembali menjalani jalur rel yang berbeda, setelah keputusan untuk berpisah itu terucap. Meskipun di bungkus oleh sebuah janji untuk tetap saling terhubung dalam bentuk apapun, bahkan dengan dasar untuk tetap memperhatikan perkembangan-perkembangan dari gerbong-gerbong kecil dan lucu yang telah ada sekalipun, pada kenyataannya…mereka akan tetap menjalani jalur rel yang berbeda.

 

Dan…aku juga tahu…

Bahwa sejauh apapun gerbong kereta dua manusia tadi terpisah di atas jalur yang berbeda…namun akan tetap berakhir kepada sebuah akhir perjalanan yang sama. Sebagai stasiun terakhir dari masing-masing kereta milik mereka. Sebuah stasiun yang bernama…”Kematian”…

 

Di Stasiun terakhir itu, kereta yang harus berhenti…akan berhenti. Namun, bagi rangkaian kereta yang telah diberi kesempatan untuk tetap bisa menjalani rel yang sama di dalam sebuah rangkaian gerbong yang sama, akan tetap harus melanjutkan perjalanannya, membawa semua gerbong kecilnya itu untuk tetap melaju meniti rel kembali. Meskipun, ribuan derai air mata telah tertumpah di atas sebuah rasa kepedihan. Sebuah rasa kehancuran atas kehilangan teman seperjalanan. Namun, pada saat sang lokomotif itu telah berhenti di stasiun terakhir perjalanannya…maka dirinya lah yang mesti berani mengambil alih tugas untuk menjadi lokomotif, agar gerbong-gerbong kecil mereka tetap dapat melanjutkan perjalanan. Melanjutkan kisah-kisah pahit-manis yang akan tertoreh di kemudian hari. Membawa mereka menaiki gunung bebatuan yang terjal, dan berbagi tawa bersama saat berada di puncaknya bermandikan sinar mentari. Atau bahkan, terseok berdarah agar mampu menahan laju rangkaian gerbong kereta saat menuruni tebing-tebing terjal pegunungan, di bawah derasnya hujan badai kehidupan. Menjaga agar gerbong-gerbong kecil itu tak sampai tergelincir jatuh ke dalam jurang-jurang yang menganga dalam diam, dalam keheningan yang mencekam. Tak bisa terbayang bagaimana kehancuran perasaan bila sampai melihat gerbong-gerbong kecil itu tergelincir keluar dari rel, dan berjatuhan mati dalam kelamnya kehidupan. Karena, merekalah justru yang saat ini menjadi bahan bakar yang nggak akan pernah habis..untuk si Lokomotif. Gerbong-gerbong kecil itu mendorong rangkain kereta melalui tatapan-tatapan bening mereka. Melalui tawa dan senyum mereka di wajah-wajah yang masih polos. Melalui doa-doa murni yang terpancar begitu saja dari hati-hati yang masih suci dan bersemangat. Di sisi lain, si Lokomotif juga harus menarik mereka dengan semua daya yang ada di sekujur tubuh, untuk dapat tetap bergerak dan melanjutkan menyusuri rel kehidupan yang masih panjang terbentang…..

 

Lokomotif itu harus kuat. Gerbong itu harus kuat.

Dan …aku tahu…aku harus kuat….agar anak-anakku juga bisa kuat…. Agar Papa mereka…Sang Lokomotif, tetap dapat tersenyum tenang di sana…

 

Karena hidup bukanlah hal yang tertulis, tapi sesuatu yang masih harus terus kita tulis. Dan…diri kita sendiri adalah pena-nya….

 

*…Your LOVE is my LIFE, and I’ll keep the LIFE you GAVE by your LOVE..my beloved Hubby…* (Love The Life, Then Life will Give you Love)

 

Langit kelam, 26 Oct 2010